Tampilkan postingan dengan label artikel umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel umum. Tampilkan semua postingan

KH Taufiqul Hakim, Membaca Kitab Kuning Itu Mudah

Jika mau berusaha, niscaya dalam waktu 3-6 bulan, seorang santri sudah bisa membaca kitab kuning secara baik dan benar. Mengenai makna atau arti, itu urusan kamus.

Diakui atau tidak, banyak umat Islam yang tidak bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Dan, jangankan seluruh ayat-ayat Alquran, surah Alfatihah saja, terkadang masih banyak yang belum fasih dalam membacanya. Termasuk, mereka yang sudah berhaji sekali pun.

Bila membaca Alquran yang sudah ada harakatnya saja kesulitan, tentu akan lebih sulit lagi apabila membaca kitab kuning yang ditulis tanpa ada harakatnya. ''Ya, inilah tantangan kita semua. Sebenarnya, membaca kitab kuning itu mudah, asal tahu caranya,'' kata KH Taufiqul Hakim, penemu metode cara cepat membaca kitab kuning, yang juga pengasuh Ponpes Darul Falah, Bangsri, Jepara, akhir pekan lalu, saat mewisuda 25 santri putra dan putri dari Ponpes Al-Matin, Ciputat, Tangerang.

Kepada Syahruddin El-Fikri dari Republika, pria kelahiran Jepara, 34 tahun yang lalu ini bercerita tentang awal mula menemukan Metode Amtsilati yang dikembangkannya. Berikut perbincangannya.

Bagaimana awalnya sehingga Ustaz membuat metode cara cepat membaca kitab kuning?
Seperti kebanyakan para santri yang mondok di pesantren, setelah lulus atau tamat, mereka banyak yang kesulitan membaca kitab kuning. Padahal, mereka menuntut ilmu di pesantren hingga waktu yang lama. Ada yang tiga tahun, lima tahun, bahkan ada yang sampai 10 tahun.

Dan, selama itu pula, mereka biasanya mengaji kitab kuning dengan para pengasuh pesantren, ustaz, maupun santri senior yang memiliki kemampuan dalam membaca kitab kuning.

Selama di pesantren, mereka mendapatkan pelajaran, seperti nahwu yang dipelajari dari kitab kuning, di antaranyaAjurumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, Nazam Imrithi, dan nahwu al-Wadlih. Begitu juga, dengan ilmu sharaf, seperti kitab tashrif yang memuat sekian ratus hingga ribuan tashrif untuk sebuah kata.

Agar memahami materi dalam kitab nahwu maupun sharaf itu, mereka umumnya harus menghafalkan. Kalau tidak hafal, biasanya mereka kesulitan untuk mempraktikkannya saat membaca kitab kuning.

Karena sudah sekian lama belajar, kemudian mereka keluar dari pondok pesantren, ada sebagian di antaranya yang tidak mampu lagi membaca kitab kuning. Bahkan, kedudukan masing-masing kalimat atau kata sudah tidak diketahui lagi.

Hal ini pula yang saya alami. Sekitar seribu nazam Alfiyah yang pernah saya pelajari dan hafalkan hingga selesai sekolah di madrasah aliyah, saya tidak tahu apa kegunaannya. Akhirnya, semuanya hilang. Sementara itu, keinginan untuk membaca kitab kuning sangat kuat. Namun, membaca secara baik dan benar kesulitan.

Berdasarkan pengalaman pribadi ini, akhirnya saya mencoba membaca sedikit demi sedikit. Kemudian, ayat-ayat yang ada dalam Alquran atau kitab kuning saya coba tulis dalam bentuk selembar kertas lengkap dengan harakatnya. Lalu, setelah saya baca, kemudian saya pahami, saya tulis lagi ayat-ayat tersebut pada kertas lainnya tanpa harakat. Saya terus praktikkan seperti itu, hingga akhirnya saya mulai bisa membaca tulisan arab yang tanpa harakat dengan benar.

Setelah itu, saya cari dasarnya. Kenapa tulisan mim dan nun seringkali dibaca min, dan jarang sekali dibaca man. Lalu, mengapa setiap akhir dari kata min itu, selalu diakhiri dengan huruf berharakat kasrah (bawah). Apa dasarnya dan bagaimana kedudukannya?

Nah, dasar dan kedudukannya itu kemudian saya cari dalam Alfiyah. Oh, ternyata kata min itu adalah bentuk huruf jer yang memberi harakat di bawah pada akhir huruf dari kata berikutnya. Misalnya, min al-Suuki, min al-madrasati, dan min funduqi.

Begitu juga, dengan kata ilaa, 'an, 'ala, fi, bi, li, rubba, dan ka. Dari situs, akhirnya saya dapat kesimpulan bahwa setiap ada huruf jer ini, kata berikutnya akan berharakat kasrah pada huruf terakhirnya. Begitulah seterusnya.

Bagaimana kemudian Ustaz memformulasikannya ke dalam sebuah buku Amtsilati itu?
Setelah saya meyakini bahwa apa yang saya pelajari sudah benar. Kemudian, saya coba praktikkan kepada beberapa teman saya yang dulu sempat mondok juga dan pada seorang anak kecil yang berumur sekitar delapan tahun.

Tanpa disangka-sangka, setelah saya ajarkan metode itu, kemudian saya suruh mereka menghafalkan beberapa nazam yang menjadi dasar dari kalimat atau kata yang dipelajari, mereka pun mampu mengungkapnya dengan baik dan benar.

Maka, mulai dari situlah saya yakin, metode ini bisa memberi manfaat bagi orang banyak, termasuk mereka yang tidak atau belum mengenal huruf hijaiyah sekalipun. Dari situlah, akhirnya saya menulis buku Amtsilati tersebut.

Berapa lama Ustaz menuliskan metode dan kaidah itu ke dalam buku Amtsilati tersebut?
Prosesnya memang cukup panjang dan unik pula. Setelah saya menyelesaikan pendidikan di Mathaliul Falah, Kajen, Pati, saya mendapatkan pelajaran Alfiyah. Saya tidak mengerti, yang penting disuruh menghafal dulu. Setelah hafal, saya bingung mau diapakan seribu nazam yang telah saya hafalkan itu. Baru naik kelas dua aliyah, mulai sedikit memahami akan kegunaannya. Dan, ketika lulus seperti yang saya ceritakan itu, saya mencoba mempraktikkannya, sedikit demi sedikit.

Lalu, ketika keinginan makin besar dan saya kebingungan bagaimana menuliskannya, saya kemudian sempat menuntut ilmu lagi di Ponpes al-Manshur, Popongan, Klaten, pimpinan KH Salman Dahlawi.

Di Ponpes ini saya mondok dengan sepenuhnya mengambil pendidikan thoriqah (tarekat--Red). Saya bertekad, tidak akan pulang ke rumah sebelum khatam thoriqah (tamat tarekat), mumpung belum menikah, ketika itu tahun 1996.

Alhamdulillah, selama 100 hari saya diberi anugerah Allah bisa menghatamkan thoriqah, yang mestinya ditempuh sampai lima tahunan. Saya kemudian pulang kampung.

Dari sini, selama beberapa tahun, tepatnya sekitar tahun 2000 saya meneruskan pondok yang pernah saya rintis sewaktu tamat dari Mathaliul Falah.

Ketika itulah, saya sempat mendengar ada sistem belajar cepat membaca Alquran yang dikenal dengan metode Qiroati. Terdorong dari metode Qiroati yang mengupas cara membaca Alquran yang ada harakatnya, saya ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang tidak ada harakatnya.

Memang, ketika orang mendengar nama nahwu, yang dipikirkan akan menjadi ngelu. Membaca buku atau kitab sharaf, seolah-olah membikin tegang syaraf. Maka, terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa contoh. Maka, mulai tanggal 27 Rajab, tepatnya tahun 2001 M, saya mulai merenung dan muncul pemikiran untuk mujahadah.

Di dunia tarekat, istilah ini sering digunakan ketika seseorang mengalami kesulitan lalu melakukan mujahadah agar mendapatkan petunjuk. Sambil mengamalkan doa-doa yang ada dan jika seseorang itu ikhlas melaksanakannya, niscaya akan diberi kemudahan. Mulailah saya melakukan mujahadah setiap hari hingga tanggal 17 ramadhan atau bertepatan dengan Nuzulul Quran. Kadang, ketika mujahadah, saya sempat ziarah ke makam Mbah Ahmad Mutamakkin, Kudus.

Dalam mujahadah itu, saya merasa berjumpa dengan Syekh Muhammad Baha'uddin An-Naqsyabandiyyah, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Imam Ibnu Malik. Hari itulah, pada 17 Ramadhan itu, saya merasa ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menuliskannya. Dan, Alhamdulillah, dorongan itu saya lakukan hingga akhirnya tanggal 27 Ramadhan atau 10 hari ketika saya memulai menulis, terwujudlah buku Amtsilati dalam tulisan tangan.

Selanjutnya, naskahnya diketik oleh beberapa sahabat saya, yang kurang lebih membutuhkan waktu sekitar satu tahun, karena dilengkapi pula dengan khulashah dan dasar-dasar dari setiap contoh kata. Dari 10 ribu nazam Alfiyah hanya ada sekitar 184 yang kami pakai dalam buku Amtsilati. Dan, Insya Allah, itu semua sudah mencakup keseluruhan Alfiyah. Dan, selanjutnya, buku itu kami cetak sebanyak 300 eksemplar.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas buku ini?
Ya, pertama kali, untuk membuktikan apakah metode yang saya gunakan berhasil, diadakanlah bedah buku pada 22 Juni 2002 di Jepara. Alhamdulillah, beragam tanggapan muncul, ada yang pro dan ada pula yang kontra.

Rupanya, dalam bedah buku di Jepara itu, ada seorang peserta yang tertarik kemudian mengundang kami menyampaikan lagi di Ponpes Manba'ul Quran di Mojokerto.

Untuk acara di Mojokerto, kami cetak lagi buku Amtsilati sebanyak seribu eksemplar. Alhamdulillah, responsnya sangat positif. Dari sini kemudian, berbagai undangan pelatihan kami terima. Baik yang diselenggarakan oleh perguruan Tinggi seperti Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang, juga di Jember, Pamekasan, dan beberapa kota lainnya, termasuk Malaysia.

Bahkan, setelah seminar dari seminar, lalu pelatihan ke pelatihan, semakin meluaslah buku Amtsilati dan banyak masyarakat yang menyambut baik buku yang kami tulis tersebut. Alhamdulillah, hingga saat ini, buku Amtsilati telah terjual sebanyak tujuh juta eksemplar.

Dan, banyak pula kalangan mahasiswa, baik setingkat S-1 hingga S-3 yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang metode yang kami tulis. Alhamdulillah, semuanya memberikan respons positif.

Apakah buku ini bisa dipelajari sendiri tanpa harus melalui seorang guru?
Ya, ini yang sekarang menjadi tantangan bagi kami untuk melakukannya. Terus terang, hingga saat ini saya sangat berharap metode Amtsilati bisa dipelajari setiap orang. Tapi, untuk saat ini, harus dengan seorang guru atau koordinator pesantren yang kami tunjuk. Saya masih khawatir, metode yang kami harapkan, yaitu seseorang bisa membaca kitab kuning dalam jangka waktu antara 3-6 bulan selesai. Nah, bila sendirian, saya khawatir hal itu tidak terpenuhi.

Jadi, untuk sementara ini, hendaknya bisa melalui koordinator pesantren yang telah kami tunjuk. Alhamdulillah, jumlah koordinator pesantrennya sudah cukup banyak tersebar mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetabek, Kalimantan, Sumatra, dan lainnya.

Apakah buku ini juga dijual bebas?
Untuk sementara tidak dijual bebas. Seperti tadi, saya khawatir mereka yang belajar sendiri akan kesulitan memahaminya. Lebih baiknya, silakan mereka menghubungi pesantren-pesantren yang ada, silakan mencari bukunya di sana dan bisa belajar Amtsilati kepada mereka.

Apalagi, buku Amtsilati itu ada lima jilid, yang perlu penjelasan dari seorang guru. Mereka yang belajar tidak diperkenankan naik ke jilid berikutnya sebelum selesai jilid di bawahnya.


Apa harapan selanjutnya dari buku ini?
Saya berharap, makin banyak orang yang bisa membaca kitab kuning dengan baik dan benar. Yang penting bisa baca dulu, tahu kedudukan dari setiap kata dan kalimatnya, bisa memberikan harakatnya dengan tepat. Itu yang penting. Mengenai maknanya, gampang, nanti tinggal buka di kamus, akan didapatkan makna atau arti dari kalimat itu.

Dan, selanjutnya, yang saya harapkan, ada santri yang mampu membuat lebih cepat lagi sehingga makin mudah bagi seseorang untuk belajar membaca kitab kuning.


Agama Islam Itu Hebat

''Agama Islam itu hebat dibandingkan dengan agama lainnya,'' kata KH Taufiqul Hakim menegaskan.

Mengapa? ''Karena sejak 14 abad silam, Alquran sudah membuat dan menuliskan berbagai teori yang sekarang banyak diklaim umat lain,'' paparnya.

Ia menyebutkan, beberapa penemuan ilmuwan dari Eropa, seperti kompas, mesiu, dan mesin percetakan. Ketiga jenis penemuan ini, ungkapnya, merupakan kunci dalam membuka cakrawala dunia.

''Maknanya dari ketiga jenis penemuan itu adalah umat Islam itu harus cerdas,'' katanya menegaskan.

Pria kelahiran Jepara, pada 14 Juni 1975 ini menyebutkan, kompas yang menunjukkan arah mata angin, seperti timur, barat, utara, dan selatan, justru telah dibicarakan oleh Alquran 14 abad silam.

''Kita punya kompas sejati, yaitu Alquran. Artinya, bila kompas menunjukkan arah manusia untuk menuju satu tempat dan dengan itu dia bisa selamat, Alquran justru akan menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat. Dengan Alquran, tentu kita akan bisa menguasai dunia,'' terangnya.

Kemudian, penemuan mesiu. Ketika masyarakat Eropa menggunakan mesiu dan memanfaatkannya sebagai senjata, jelas suami Hj Faizatul Mahsunah ini, umat Islam juga punya senjata yang sangat ampuh. Senjata itu berupa doa, zikir, asmaul husna, shalawat, dan wirid.

''Dengan niat yang tulus, ikhlas, dan semata-mata hanya karena Allah, niscaya Allah akan memudahkan kita mencapai kemajuan, asal dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh,'' jelasnya.

Alquran, papar bapak dua anak ini, merupakan sumber ilmu pengetahuan, yang memungkinkan setiap umat Islam untuk terus menggalinya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Selanjutnya, ketika bangsa Eropa menemukan mesin percetakan untuk mendistribusikan ilmu pengetahuan, jauh sebelumnya Alquran sudah membicarakannya. ''Iqra' bismirabbikal ladzi khalaq, Khalaqal Insana min 'Alaq, Iqra' wa rabbukal akram. Alladzi 'allama bil qolam. 'Allamal Insana maa lam ya'lam. Alquran sudah mengajarkan manusia untuk membaca dan menulis. Kemudian, hadirnya sekolah-sekolah dan madrasah yang mampu mencetak generasi Islam yang lebih baik,'' katanya.

Lembaga pendidikan, menurutnya, jauh lebih hebat dari hanya sebuah mesin percetakan. ''Kalau mesin percetakan bisa dicetak untuk mendistribusikan sebuah buku dari seorang penulis, sebaliknya lembaga pendidikan bisa mencetak dan menghasilkan penulis-penulis buku yang hebat,'' terangnya.
Oleh karena itu, KH Taufiqul Hakim mengimbau umat Islam, senantiasa mempelajari Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. sya
By Republika Newsroom
Read More..

Metode Memahami Kitab Kuning

Ditulis oleh Oleh : Yusuf Fatawie*
Term kitab kuning bukan merupakan istilah untuk kitab yang kertasnya kuning saja, akan tetapi ia merupakan istilah untuk kitab yang dikarang oleh para cendekiawan masa silam. Istilah tersebut digunakan karena mayoritas kitab klasik menggunakan kertas kuning, namun belakangan ini penerbit-penerbit banyak yang menggunakan kertas putih. Yang pasti, istilah tersebut digunakan untuk produk pemikiran salaf. Sementara itu, produk pemikiran salaf dikalangan akdemisi lebih populer dengan sebutan turats.
Turats secara harfiah berarti sesuatu yang ditinggalkan/ diwariskan. Di dunia pemikiran Islam, turats digunakan dalam khazanah intelektual Islam klasik yang diwariskan oleh para pemikir tradisional. Istilah turats yang berarti khazanah tradisional Islam merupakan asli ciptaan bahasa Arab kontemporer.

Sejarah mencatat bahwa para pembuat kitab kuning/ turats dalam memainkan perannya di panggung pergulatan pemikiran Islam tak pernah sepi dari polemik dan hal-hal yang berbau kontradiktif. Sengitnya perdebatan antara Mu’tazilah, Murji’ah, Rafidhah, dan Ahlu al Sunnah yang direkam secara rinci oleh Abdul Qohir ibn Thahir ibn Muhammad al Baghdadi (w. 429/1037) dalam karyanya al Farqu bain al Firaq. Dalam buku tersebut tergambar dengan jelas kemajemukan pemahaman agama terlebih masalah akidah. Setelah melakukan pencarian dan kajian yang mendalam para tokoh aliran masing-masing menemukan konklusi yang berbeda-beda.

Pada kurun berikutnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali (w.505 H) berhasil mengguncang dunia filsafat melalui bukunya yang bejudul Tahafut al Falasifah. Dengan sangat rasional beliau mengungkap kerancuan pemikiran para filosof terutama pemikiran al Farabi dan Ibnu Sina. Namun kritikan tajam dari Ghazali terhadap para filosof ini mendapatkan serangan balik dari Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd (w. 595 H) melalui Tahafut al Tahafut. Dalam pandangan Ibnu Rusyd, Ghazali dinilai kurang tepat dalam menguak sisi fatalitas pemikiran para filosof karena Ghazali pada dasarnya hanya bersandar pada dua pemikiran yakni al Farabi dan Ibnu Sina, bukan pada akarnya, yakni filsafat Yunani. Dalam hal, ini Ibnu Rusyd adalah sosok yang melakukan apologi (pembelaan) sekaligus purifikasi (pemurnian) filsafat Aristoteles yang tercemar dan terkaburkan oleh pendapat Ibnu Sina. Bahkan Ibnu Rusyd berusaha untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dan agama.
Silang pendapat juga tumbuh subur di ranah hukum Islam (fikih). Gesekan-gesekan banyak terjadi pada pentolan dan pendiri madzhab seperti Syafi’i, Maliki dan imam-imam yang lain. Dalam tubuh sebuah madzhab juga kerap terjadi benturan ide sebagaimana yang ada dalam kubu Syafi’iyah seperti al Nawawi dengan al Rafi’i. Namun perlu diingat bahwa perbedaan bukan berarti permusuhan. Beragam pendapat yang muncul disikapi oleh para pemikir klasik dengan penuh kedewasaan sehingga dengan perbedaan justru benar-benar membawa rahmat.
Berbicara soal ilmu pengetahuan, ada baiknya kita tengok kembali gagasan Ghazali dalam al Mustashfa fi ’Ilm al Ushul -buku tentang teori hukum Islam (ushul fikih). Dalam prolog (khutbah al kitab) buku tersebut, Hujjatul Islam memetakan ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu rasional murni (’aqli mahdh) seperti matematika (al hisab), arsitektur (al handasah) dan astrologi (al nujum). Agama tidak menganjurkan untuk mempelajari ilmu jenis ini. Ilmu ini sebagian mengandung kebenaran dan sebagian yang lain hanyalah spekulasi yang tak berdasar. Dalam kacamata Ghazali, ilmu ini tidak berguna karena hanya terkait erat dengan kehidupan dunia yang fana. Ilmu bisa dikatakan bermanfaat bukanlah ilmu yang hanya berorientasi pada kenikmatan dan kegemilangan masa depan, melainkan diukur dengan kemampuannya mengantarkan kepada kebahagian akhirat yang abadi.
Kedua, ilmu yang murni hanya merujuk pada sumber-sumber terdahulu (naqli mahdh). Contoh ilmu ini adalah ilmu hadis, tafsir dan yang sejenis. Ilmu hadis dan tafsir diperoleh dari sahabat, tabi’in dan orang-orang zaman dahulu. Untuk mengkaji ilmu jenis ini sangat mudah sebab orang muda dan tua dapat menguasai dengan gampang asalkan memiliki daya ingat yang tajam (quwwat al hifdzi), sementara rasio tidak begitu berperan di bidang ini.

Dalam perspektif Ghazali, pembagian ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang ketiga. Ilmu ketiga merupakan upaya mensinergikan antara akal dan nukil, antara penalaran dan periwayatan. Ilmu fikih dan ushul fikih merupakan cakupan dari bagian ilmu yang ketiga, sebab porsi akal dan wahyu bekerja bersama-sama di dalamnya. Karena dalam ilmu ushul fikih dan fikih terkandung dua unsur sekaligus, maka ilmu ini mempunyai nilai plus bila dibandingkan ilmu hadis, tafsir dan lainnya.
Pengarang buku Ihya’ Ulumuddin ini menambahkan argumen bahwa ilmu-ilmu semacam itu tidak dilandaskan pada taklid semata yang menjadi ciri khas ilmu naqli begitu pula tidak bersandar pada akal murni. Upaya peniruan secara membabi buta ditolak oleh akal, sementara berpegang pada akal semata tidak dibenarkan agama. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu yang paling unggul adalah ilmu yang berdiri ditengah-tengah antara akal dan wahyu.

Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari tiga pemetaan ilmu yang telah dilakukan oleh Ghazali dan sepenggal sejarah perjalanan intelektual dari masa ke masa.

Dari sana, penulis ingin menawarkan metode baru dalam memahami kitab kuning.

1. Pengkaji kitab kuning tidak hanya berhenti pemahaman hukum-hukum hasil karya ulama terdahulu, tetapi melacak metodologi penggalian hukumnya. Hal ini sebagaimana tawaran al Ghazali bahwa ilmu yang paling baik adalah penggabungan antara aqli dan naqli, antara menerima hasil pemikiran ulama’ salaf sekaligus mengetahui dalil dan penalarannya.

2. Membiasakan untuk bersikap kritis dan teliti terhadap objek kajian. Karena pada dasarnya budaya kritis adalah hal yang lumrah dalam dunia intelektual. Sebagaimana telah kita saksikan potret kehidupan ulama’ salaf yang sarat dengan nuansa konflik dan polemik. Hal itu terjadi, tak lain hanyalah karena ketelitian, kejelian dan kritisisme yang dimiliki oleh para pendahulu kita yang kesemuanya patut untuk kita teladani.

3. Melakukan analisa yang mendalam, apakah pendapat ulama itu benar-benar murni refleksi atas teks (nash) atau ada faktor lain yang mempengaruhi. Sekedar contoh, kenapa sampai ada qoul qodim dan qoul jadid, kenapa Imam Nawawi berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i dalam transaksi jual beli tanpa sighat (bai’al mu’athoh), kenapa Imam Qoffal berani berbeda pendapat dalam memahami sabilillah yang berarti setiap jalan kebaikan (sabil al khair) dapat menerima zakat sedangkan mayoritas ulama tidak memperbolehkan.

4. Menelusuri sebab terjadinya perbedaan pendapat, sejarah kodifikasi kitab kuning, latar belakang pendidikan pengarang, keadaan sosial dan budaya yang mempengaruhinya. Memahami faktor dan tujuan pengarang mengemukakan pendapatnya.

5. Pengkaji harus menjaga jarak antara dirinya (selaku subyek) dan materi kajian (selaku obyek). Dengan prinsip ini, peneliti tidak boleh membuat penilaian apapun terhadap materi dan melepaskan dari fanatisme yang berlebihan. Dalam tahap ini peneliti harus berusaha ”menelanjangi” aspek kultural, sosial dan historis dimana suatu hukum dicetuskan. Benar-benar memahami latar belakang suatu hukum yang telah dirumuskan ulama’ salaf. Hal ini dimaksudkan agar terjadi penilaian dan pemahaman yang obyektif.

Langkah terakhir adalah pengkaji menghubungkan antara dirinya dengan obyek kajian. Langkah ini diperlukan untuk mereaktualisasi dan mengukur relevansi kitab kuning dengan konteks kekinian. Pengkaji dalam hal ini dituntut untuk menjadikan kitab kuning sebagai sesuatu yang cocok untuk diterapkan, sesuai dengan kondisi saat ini dan bersifat ke-Indonesiaan. Senantiasa berpegang pada prinsip bahwa syariat Islam diciptakan demi tegaknya kemaslahatan sosial pada masa kini dan masa depan.
Di samping langkah-langkah di atas, pemerhati kajian kitab kuning hendaknya membekali dengan ilmu penunjang yakni logika (mantiq). Ilmu anggitan Aristoteles ini tampaknya kurang mendapatkan perhatian, padahal ilmu tersebut dapat mempertajam rasionalitas dan menumbuhkan daya nalar yang kreatif. Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm dan ulama salaf lainnya adalah pakar filsafat Islam disamping menguasai ilmu-ilmu keIslaman.

Kitab kuning merupakan hasil kerja keras para sarjana Islam klasik yang menyimpan segudang jawaban atas permasalahan-permasalahan masa lalu. Sementara itu, disisi lain kita adalah generasi yang hidup di ruang dan kondisi yang berbeda serta menghadapi peliknya problematika modern. Upaya yang dilakukan para pemikir bebas dalam merespon pernak-pernik modernitas sembari meninggalkan khazanah tradisional Islam tak lain hanyalah kecongkakan intelektual. Namun serta merta menjadikan kitab kuning sebagai pedoman yang ’sepenuhnya laku’ adalah tindakan yang kurang bijaksana, karena hanya al Quran dan hadis-lah yang bersifat universal.
Kita ini ibarat anak saudagar kaya yang diwarisi ratusan perusahaan besar oleh bapaknya. Akan tetapi apabila kita tidak mampu memperbaharui sistem, meingkatkan produktifitas, kreatif dalam merespons dinamika zaman, lambat laun produk perusahaan tidak laku dan tidak menarik konsumen. Akhir cerita perusahaan yang besar itu akan mati meninggalkan seribu kisah manis.
Dengan pendekatan-pendekatan di atas untuk memahami kitab kuning, Insya Allah kitab kuning akan senantiasa aktual, up to date dan layak pakai sepanjang masa. Dengan berbekal pendekatan tekstual dan pemahaman yang lugu justru akan menjadikan kitab kuning hanya sekedar bundelan kertas peninggalan ratusan tahun silam.
Realitas mengatakan bahwa yang berhasil menjadi pemikir-pemikir besar Islam Indonesia adalah mereka yang betul-betul mampu mengusai khazanah Islam klasik dengan baik. Tokoh seperti Sahal Mahfudz, Quraisy Syihab, Said Aqil Siraj dll adalah tokoh-tokoh yang berlatar belakang pendidikan pesantren dan kitab kuning. Penulis sangat yakin bahwa orang yang mampu mengusai kitab kuning dengan sempurna adalah orang yang layak meneruskan estafet intelektual pemikiran Islam masa depan. Selamat bergumul dengan kitab kuning dan berhadapan dengan arus modernitas serta tantangan zaman.

*Penulis kelas III Tsanawiyah MHM Lirboyo Kediri



Read More..

Kilas Sejarah Pendirian NU

Dukungan KH Kholil Bangkalan terhadap KH. Hasyim Asy'ari

Artikel ini dikutip dari buletin Nahdliyah yang diterbitkan PCNU Pasuruan edisi 1 dan 2 September dan Oktober 2006. Artikel ini dimuat kembali agar generasi muda NU dan simpatisannya semakin memahami NU dan mempertebal keimanan Ahlussunnah wal Jamaahnya.
Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam", melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.
Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya "dibaca" oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.
Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah memberikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenang-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.
Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segera menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, masih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.
Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie juga meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
Bapak Spiritual
Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebagai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).
Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfuzh diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.
Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab Shahih Bukhari. Salah seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits Shahih Bukhari ini diakui pula oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.
Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.
Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim memberikan pernyataan tegas:
“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”
Lebih tegas beliau menyatakan:
“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”
Demikian pula terhadap masalah haul. Selain Kiai Hasyim, para pendiri NU lainnya seperti Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri juga bersikap kritis terhadap konsep haul dan mereka menolak untuk di-haul-i (Qomar, 2002). Akan tetapi di kalangan NU sendiri, acara haul telah menjadi tradisi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Para wali atau kiai yang meninggal dunia, setiap tahunnya oleh warga nahdliyih akan di-haul-i dengan serangkaian kegiatan seperti ziarah kubur, tahlil dan ceramah agama untuk mengenang perjuangan mereka agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Mengapa masalah tarekat, konsep kewalian dan haul yang mendapat kritikan pedas dari Kiai Hasyim tersebut, justru ditradisikan di kalangan NU? Apakah warga NU sudah tidak lagi mengindahkan peringatan Kiai Hasyim? Untuk memastikan jawabannya, menurut Mujammil Qomar, agak sulit, mengingat NU bisa berkembang pesat juga karena usaha dan pengaruh Kiai Hasyim.
Wallahu a’lam.

Read More..

Maktabah Syamilah

Maktabah Syamilah 2.11


Kitab kuning yang berupa Software ini bernama “Al-Maktabah al-Syamilah“, Al-Ishdar 2.11 (Pustaka Lengkap, Versi 2.11), terdiri dari lebih 2000 kitab yang dikelompokkan dalam 31 bidang. Software ini diterbitkan oleh jaringan Da’wah Islamiyah al-Misykat.


Kitab yang selama ini mungkin hanya dinikmati melalui tulisan di kertas, baik di kertas kuning (sehinggah disebut kitab kuning) maupun di kertas putih, memerlukan usaha tersendiri untuk memilikinya, harganya yang cukup mahal, tempatnya yang harus disediakan khusus, perawatannya agar tidak dirusak oleh serangga, jamur, udara lembab, dan lain-lain. Dengan menginstall software ini, diharapkan masalah tersebut bisa teratasi.

Kitab berupa Program komputer ini gratis, tidak perlu membelinya, tidak perlu menyediakan ruangan besar untuk menampung ribuan kitab yang masing-masing bisa jadi terdiri dari puluhan juz. Kitab model ini tidak akan rusak oleh gangguan diatas, bahkan bila rusak komputernya atau rusak programnyapun, maka cukup dicopykan ulang saja dari program aslinya, Insya Allah akan bisa dinikmati kembali dengan mudah.

Software ini sangat cocok untuk para Asatidz, para Kiai, pengkaji Islam, dosen Islam, perpustakaan dan pondok-pondok pesantren. Perlu diketahui bahwa software ini berisi kitab turath Islami yang sesuai dengan faham Ahlussunnah wal Jamaah dalam berbagai versi.Kami bermaksud untuk ikut mendistribusikan software Jaringan al-Misykat tersebut kepada kaum muslimin, pesantren-pesantren, madrasah dan lembaga-lembaga Islam yang memerlukan software tersebut secara gratis.


AL-MAKTABAH AL-SYAMILAH
PERPUSTAKAAN KITAB BAHASA ARAB DIGITAL
VERSI 2.06 Dengan 1800 kitab 29 Bidang Ilmu Keilmuan
VERSI 2.09 Dengan 2500 kitab 48 Bidang Ilmu Keilmuan

Kitab digital dalam bentuk software ini bernama Al-Maktabah Al-Syamilah, Al-Isdhar 2.06 (Pustaka Lengkap, Versi 2.06) dan terdiri atas 1800 (dua ribu lima ratus) kitab yang dikelompokkan dalam 29 bidang keilmuan, Versi 2.09 Dengan 2500 kitab 48 Bidang Ilmu Keilmuan, setiap waktu makin bertambah dan bertambah banyak, kitab berupa program komputer ini sangat praktis karena tidak membutuhkan ruang besar untuk menampung ribuan kitab yang masing-masing bisa jadi terdiri atas puluhan juz. Kitab dalam bentuk seperti ini juga tidak membutuhkan perawatan yang berarti.


Terdapat beberapa macam program yang ada pada kami Versi 2.06 kemudian tahap penyempurnaan di Versi 2.09 dan terakhir sampai hari ini (Mei 2007) Versi 2.11. Setiap Versi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
  1. Di Versi 2.06 ketika kita menuliskan kitab di tampilan kitab seluruhnya sebagian hurufnya saja maka akan tampil perkiraan komputer dari buku yang kita maksud, namun hal ini macet di Versi 2.09.
  2. Kecepatan pencarian di Versi 2.09 telah meningkat tajam, namun di Versi 2.11 justru biasa saja.
  3. Untuk isi kitab berikut jumlahnya tergantung kita, ada yang memasukkan 2000 kitab di Versi 2.06, di Versi 2.09 ada yang terisi 2500 kitab dengan kapasitas 6.6 GB ada juga yang terisi sampai 12 GB (setidaknya penulis mendengar hal itu), maka Versi 2.11 akan lebih banyak lagi bila kita menghendakinya, bahkan kita bisa memasukkan kitab berbahasa Indonesia dengan fasilitas import buku di program ini atau menghapus kitab yang kita anggap tidak kita pakai atau kurang bermanfaat bagi kita.
Maka panduan yang kami tulis ini adalah gabungan dari beberapa Versi yang ada dengan modifikasi yang kami anggap bermanfaat, kalaulah ada keterangan yang terlewatkan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kesmpurnaan hanyalah milik Allah subhanahu wa ta'aala.

Melihat betapa besar manfaat software ini, "Pustaka Ridwana" tergerak untuk ikut menyebarkannya ke pesantren, lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan seluruh individu muslim. Dalam buku petunjuk penggunaan Al-Maktabah Al-Syamilah ini kami sertakan secara gratis sebagai bonus buku ini, semoga setiap muslim yang belum bisa memakai Al-Maktabah Al-Syamilah ini bisa mendapat banyak manfaat dan bisa memanfaatkannya dengan maksimal dengan adanya buku panduan ini.

Diharapkan dengan adanya buku panduan ini bisa mendorong para penuntut ilmu, ustadz, ulama dan kiai agar lebih berbobot dalam mendidik santri, dan bisa mempertanggung jawabkan ilmunya di hadapan Yang Maha Kuasa.


Al-Maktabah Al-Syamilah
  • Tujuan dari perpustakaan lengkap ini bukan hanya mengumpulkan buku-buku gratis dari situs-situs internet dalam satu buah perpustakaan digital, namun yang lebih penting adalah dimungkinkannya penambahan dan pengaturan agar menjadi perpustakaan pribadi bagi para penuntut ilmu.
  • Perpustakaan ini gratis alias cuma-cuma dan bisa di download langsung secara gratis dari situs resminya : http://www.shamela.ws/
  • Tidak boleh memanfaatkannya untuk menyebarkan manhaj yang menyelisihi manhaj ahlus sunnah wal jama'ah.
Contoh Versi 2.09 dengan 2500 kitab 48 bidang ilmu

Tujuannya :
Mencari kitab yang ada di Al-Maktabah Al-Syamilah ini dan memanfaatkan fungsi dari setiap kitab yang ada fasilitasnya dengan klik kanan, seperti : membuka kitab, mengatur kitab, pencarian dll..

Caranya :
  • Dari menu file klik pilihan kitab [ikhtiyar kitab]
  • Klik di asal tampilan utama (hal ini bisa diganti dari jendela option bila anda ingin menggantinya).

Keterangan tombol :
Ada dua cara mencari kitab :
  1. Sesuai bidang kelompok [Majmu'at]
  2. Sesuai abjad arab [Abjadiyan]

Daftar Bidang Ilmu dan Jumlah Kitab di Dalamnya

Software ini memuat berbagai kitab dalam berbagai bidang

Di bidang tafsir (lebih 52 kitab) meliputi Tafsir Thabari, Ibnu Katsir, Al-Baghawi, Al-Alusi, Al-Bahr, Fathul Qadir, Ad-Durrul Mantsur, Jalalain, Al-Khazin, Az-Zamakhsyari, Ibnu Abdis Salam, Sayyid Thanthawi, Adh-Dhilal, Al-Qusyairi, dll.

Dalam bidang Ulumul Qur’an (lebih 43 kitab), meliputi I’rabul Qur’an, Asbabu Nuzulil Qur’an, Al-Itqan, Misykatul anwar, Fadlailul Qur’an, Majazul Qur’an, Lubabun Nuzul, At-Tibyan, Asbabun Nuzul, Ahkamul Qur’an lisy Sayfi’iy, Ahkamul Qur’an li Ibni Arabiy, dll

Dalam bidang Fiqih, kitab di lingkungan 4 madzhab diletakkan terpisah. Untuk Madzhab Imam Syafi’y, yang tersedia antara lain Al-Umm, I’anatuh Thalibin, Fathul Wahhab, Fathul Mu’in, Asnal Mathalib, Al-Majmu’, Raudlatuth Thalibin, Hasyiah Qalyubi wa Umairah, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Hasyiah Bujairimi alal Khatib, Hasyiah Bujairimi alal Minhaj, dll.

Dalam madzhab Imam Maliki (15 kitab), Asy-Syarhul Kabir, Bidayatul Mujtahid, Mukhtashar Khalil, At-Taju wal Iklil, Mawahibul Jalil, Hasyiyah Ad-Dasuqi alasy Syarhil Kabir, dll. Dalam Madzhab Imam Hanafi terdapat lebih 20 kitab, dan Madzhab Imam Maliki terdapat 15 kitab.
Dalam bidang Tasawuf, / Akhlak terdapat Ihya Ulumiddin, Riyadlush Shalihin, Al-Kabair, Al-Futuhatul Makiyyah, Qutul Qulub, Al-Risalatul Qusyairiyyah, Al-Adzkar, Sharh Hikam Atho’iyyah dll.

Klasifikasi umum memuat kitab Tafsirul Ahlam, Ta’tirul Anam fi Tafsiril Ahlam, Mausu’ah Tafsiril Ahlam, Mafahimul Islamiyyah, Al-Jam’iyyatul Khairiyyah li Tahfidhil Qur’anil Karim, Jam’ul Qur’anil Karim fi ‘Ahdi Khulafair Rasyidin, dll.

Maktabah Shamila Versi 2.11 telah diupdate dengan penambahan kitab-kitab turath tidak kurang dari 200 nama kitab baru, khususnya kitab madzhab Syafi’i yang sangat dibutuhkan oleh kalangan santri di Indonesia. Selain itu, versi ini juga dilengkapi dengan kitab-kitab Fikih kontemporer seperti Fikih Kesehatan, Fikih Lingkungan, Fikih Kedokteran, Fikih Narkoba, Fikih Persalinan, Ekonomi dan Perbankan Shariah dan kajian fikih kontemporer lainnya.

Semua kitab tersebut sudah lengkap dimuat dalam software ini, oleh karena itu ukurannya sangat besar, Hard Disk yang dibutuhkan minimal 4,2 Giga Byte.


Kemampuan Mencari

Kemampuan Utama software ini, diantaranya :

Membuka kitab apapun dengan mudah berdasarkan Juz dan Halamannya.
Bila sulit mencari kitabnya, ada dua pilihan, dicari berdasarkan urutan (index) huruf atau berdasarkan bidang ilmunya.

Bila hanya tahu sedikit kata dari judulnya, misal Ihya Ulumiddin, maka cukup ketikkan Ihya, maka akan diantarkan daftar kitab yang di judulnya tertera kata Ihya.

Mencari IBARAT. (Catatan : IBARAT adalah keterangan ayat / hadits / fatwa / pembahasan yang terkait dengan Jawaban yang dibutuhkan). Inilah kunci utama pentingnya software ini.
Pencarian itu dilakukan dengan memasukkan sebuah kata, dan software akan mencarinya di seluruh kitab.

Bila terlalu banyak hasil pencariannya, bisa pula dibatasi pada nama kitab tertentu saja atau pada bidang ilmu tertentu saja. Misalkan pembahasan Makmum Masbuq, bisa didapat dari Kitab-kitab di bidang Hadits, bidang Fiqih (Madzhab 4), dll.

Pencarian kata itu di dalam 1800 kitab bisa dilakukan, akan tetapi jelas memakan waktu dan mungkin tidak semuanya berkait langsung dengan yang diinginkan penanya.

Maka dengan membatasinya hanya pada Kitab Majmu’ saja mungkin akan lebih mudah. Bisa juga diperluas sedikit dengan menambah daftar kita yg akan dituju ini. Atau bahkan lebih luas lagi, yakni di seluruh kitab fiqih dalam Madzhab Imam Syafi’iy.

Daerah pencarian juga bisa digabungkan dari bidang yang berbeda, misalnya dari bidang fiqih Madzhab Imam Syafi’iy ditambah Madzhab Imam Maliki, ditambah bidang Tafsir, dan bidang hadith dan lain-lain.

Kitab installable

Kelebihan lain dari software ini adalah kemampuan untuk menambahkan kitab baru dengan tanpa install ulang software secara total. Begitu juga pengguna bisa menghapus kitab-kitab yang tidak diinginkannya sesuai kebutuhan. Bahkan, pengguna juga bisa mengirimkan satu kitab, misalnya, dalam bentuk file kecil kepada pengguna lain dengan tanpa mengirimkan software secara utuh, kemudian file tersebut bisa dibaca dengan software Mini Shamila.


Cara Meng-Install

Sistem Operasi Windowsnya harus Arabic (Win 95 atau 98 Arabic), atau Win XP yang dienable Arabicnya. Bila Windows XP masih versi English atau bahasa lainnya maka dibutuhkan langkah Enable Arabic (dijelaskan di bawah). Catatan : CD asli dari Windows akan dibutuhkan ketika mengganti setting Win XP itu ke Arabic.

Ruang kosong di Hard Disk minimal 4.2 GB, perinciannya file asli sebesar 789 MB, hasil ekstraknya meliputi file terkait program 137 MB dan file data 3.18 GB, Memory minimal 128 MB.


Langkah-Langkah Install
  1. Klik file “shamela.exe”
  2. Klik tombol INSTALL
  3. Maka file ini akan menghasilkan sebuah direktory baru Library, yg berisi file “SETUP.EXE” dan 3 direktory lainnya
  4. Double Clik (jalankan) program “SETUP.EXE”
  5. Pilih direktory tempat menyimpan programnya (pada umumnya di direktory “Program files”
  6. Maka akan terbentuk direktory “Al-Maktabatusy Syamilah” dalam teks Arab.

Untuk menjalankannya
  1. klik START, ALL PROGRAM, cari “Al-Maktabatusy Syamilah” dalam teks Arab
  2. Klik “Al-Maktabatusy Syamilah” dalam teks Arab
Program siap menampilkan berbagai jenis kitab.


Mengenable / Mempersiapkan Win XP agar bermode Arabic
  1. Klik [Start]
  2. [Control Panel] [Regional and Language Options] [Languages]
  3. Pada Supplemental language support, pilihlan kotak kecil yg atas (ada 2 kotak)
  4. Komputer akan menginstal karakter Arab dari CD (harus sudah disiapkan CD Windowsnya).
  5. Sampai di sini Windows sudah siap diubah ke mode Arabic
  6. Aktifkan mode Arabicnya, melalui [Control Panel] [Regional and Language Options] [Advanced]
  7. Pilih Arabic, dengan nama negara apapun (asalkan bertuliskan Arabic), misalkan Mesir, Bahrain, Jordan, dan lain-lain.


Untuk mendapatkan CD Maktabah Syamilah:
  1. Hubungi kami melalui email Ghazali1602@yahoo.com
  2. Download melalui website al-Misykat
  3. Kontak Person: Fahmi Tr : 081321585061
Read More..
 
Powered By Blogger | Portal Design By Trik-tips Blog © 2009 | Resolution: 1024x768px | Best View: Firefox | Top